Barella: “Conte Banyak Membantuku. Kekalahan di Final Europa League Jadi Kekecewaan Terbesar dalam Karirku Sejauh Ini”

Gelandang Inter, Nicolo Barella berbicara kepada DAZN dalam program ‘Linea Diletta‘ yang dipandau presenter cantik, Diletta Leotta dan berbicara mengenai banyak hal, dimulai dengan awal karir profesionalnya:

“Ketika kecil, saya mengimpikan bermain di Serie A bersama Cagliari dan mengenakan ban kapten. Sekarang saya memiliki lebih banyak mimpi dan saat ini diwarnai dengan warna hitam-biru .”

Barella ditanya soal asal-usul julukan ‘radio’…

“Itu adalah julukan yang diberikan ‘para pemain tua’ Cagliari yakni Andrea Cossi dan Marco Sau kepadaku. Kenapa? Karena ketika saya bergabung dengan tim utama, saya tak banyak bicara, namun ketika bermain, saya mulai banyak berbicara di lapangan dan mereka mengatakan jika saya lebih baik dari sebelumnya.”

Soal awal karirnya…

“Saya mulai bermain sepakbola di usia tiga setengah tahun. Ibuku selalu mengatakan jika ketika mereka membawaku ke lapangan, mereka mengira saya akan tinggal di sana membuat tumpukan pasir di lapangan tanah liat, tapi saya selalu mendengarkan, saya memperhatikan. Sekitar usia 14-15 tahun, saya mulai mengerti jika mungkin saya sedikit lebih baik dari yang lain.”

Soal sosok Gianfraco Zola yang memberinya kesempatan debut di Cagliari…

“Ya, ia memberiku debut di laga Coppa Italia kontra Parma. Saya berhutang banyak hal padanya. Ia mungkin salah satu sosok paling rendah hati yang pernah saya temui di sepakbola. Ia membuatku sadar jika butuh kerendahan hati untuk bisa menjadi seorang pemain juara yang hebat. Saya sangat bangga menjadi orang Sardinia. Saya merasa sebagai orang Sardinia dengan perilaku saya di dalam dan luar lapangan dan berharap orang-orang dan rekan-rekanku mengapresiasi bagaimana saya bersikap.”

Soal Antonio Conte…

“Saya sangat metodis? Pelatih telah banyak membantuku dalam hal ini. Sebelumnya saya lebih bebas di lapangan, sementara Conte membantuku untuk bisa lebih ‘tertib’. Saya belajar banyak di lapangan, mengambil semua sisi positif dari rekan-rekan satu timku.”

Soal kekalahan di final Europa League musim lalu…

“Ya, sejauh ini hal itu adalah kekecewaan terbesarku sejak bermain. Saya menginginkan mengangkat trofi itu. Kami menghabiskan waktu yang panjang jauh dari keluarga dan itu kenapa merasa pantas untuk mendapatkan akhir yang berbeda.”

Soal gol-nya ke gawan Cagliari dan juga tembakan luar biasa kontra Hellas Verona musim lalu…

“Itu gol yang bagus, mungkin gol kontra Hellas Verona di San Siro menjadi gol paling indah yang pernah saya cetak di Serie A. Gol ke gawang Cagliari? Itu aneh. Itu adalah momen di mana saya merasa gembira, namun juga sedih. Pikiranku kacau, saya minta maaf, saya sedikit bersemangat.”

Kala wawancara berlangsung, Diletta Leotta juga menampilkan pesan dari legenda Inter, Dejan Stankovic yang juga idola dari Barella…

“Gol-gol dari Stankovic mampu membuatku terkesima. Dia adalah segalanya, sosok yang pantang meyerah. Anda bisa melihat jika dia adalah seorang leader dari bagaimana ia bertingkah laku. Menyaksikannya di TV ketika mencetak gol yang luar biasa dan kemudian San Siro seakan ‘meledak’ adalah sebuah perasaan yang indah.”

Mengenai Romelu Lukaku…

“Lukaku mirip seperti Shaquille O’Neal, dua sosok yang menggunakan kekuatan fisik mereka sebagai senjata utama, namun Romelu lebih dari itu. Bahkan di sesi latihan sekalipun, butuh dua hingga tiga pemain untuk menghentikannya. Dia adalah kekuatan alam.

Ia mampu menjalin hubungan yang baik dengan siapapun. Di atas lapangan, ia sangat menentukan. Ketika ia tiba di Italia, ia sudah langsung menyambut orang-orang dengan bahasa Italia! Hal ini saja sudah aneh. Saya pikir ia tahu segala bahasa di dunia ini.”

Mengenai tim nasional…

“Mewakili tim nasional adalah sebuah kebanggaan bagiku. Ini adalah impian semua pesepakbola. Hubungan dengan rekan di tim nasional? Saya berhubungan baik dengan Salvatore Sirigu karena kami sama-sama berasal dari Sardinia. Juga saya memiliki hubungan baik dengan Giorgio Chiellini yang seperti seoarng ‘ibu’ karena begitu protekif.”

Apa kekuatan terbesarmu?

“Kekuatan utama saya adalah menjadi sosok yang rendah hati dan tulus dengan nilai-nilai, namun kekurangan dari sifat ini adalah di lapangan sesekali saya terbawa suasana.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *