Lukaku: “Adriano? Mudah Cetak Gol Gunakan Dirinya di Play Station. Selebrasi Membungkuk ke Penonton…”

Romelu Lukaku berbicara dalam program Tiki Taka beberapa waktu lalu dan membahas banyak hal, termasuk awal dirinya mengapresiasi pelatihnya saat ini, Antonio Conte:

“Semua berawal di laga persahabatan antara Italia dan Belgia yang digelar di Brussels. Saya ingat Italia memainkan duet Pellè dan Eder dan mereka mampu menciptakan tiga peluang gol hanya dalam beberapa menit. Dari sana saya menyukai gaya bermain Conte. Saya berpikir akan menjadi hal yang menyenangkan memiliki dirinya sebagai pelatih.

Saya sangat menyukai bagaimana cara ia berpikir. Kami berbicara dan ia mengatakan ia bersiap menukangi Chelsea, tim yang saya bela saat masih belia dan mungkin suatu saat nanti ada kesempatan untuk bekerja bersama.”

Serie A –

“Serie A berbeda dengan liga-liga lain yang pernah saya cicipi. Para bek di sini adalah yang terbaik di Eropa. Sesi latihan juga sangat berbeda di mana fokus di sini ada dalam hal fisik. Dua bulan pertama di Inter sangat sulit bagi saya, namun saya selalu berpikir tentang masa depan dan akan bisa menjadi seperti apa saya terus dilatih seperti ini.

Saya masih muda dan ingin bekerja untuk bisa lebih baik lagi. Di Inggris ada banyak laga yang tak jauh berbeda dari satu laga ke laga lainnya. Sementara di Italia, setiap laga itu sangat berbeda.”

Derby Milano pertamanya –

“Perasaan yang luar biasa. Bermain di Italia dan untuk Inter adalah mimpi yang jadi nyata bagi saya. Final pertama yang saya saksikan adalah Piala UEFA 1998 antara Inter – Lazio. Saya ingin bermain untuk Inter karena saya selalu mengagumi penyerang hebat yang bermain di sini seperti Ronaldo, Vieri dan Adriano.”

Lukaku kemudian menjelaskan kenapa Adriano menjadi salah satu idolanya kala tumbuh dewasa…

“Ia sangat kuat, memiliki kaki kiri mematikan dan ketika bermain PlayStation, saya memilihnya karena sangat mudah mencetak gol melalui dirinya dari luar kotak penalti.”

Apakah kita sudah melihat kemampuan terbaik seorang Lukaku?

“Mentalitas saya adalah mencoba untuk bisa lebih baik lagi. Di usia 26 tahun, saya belum pada kondisi puncak. Itu kenapa penting untuk terus bekerja keras setiap hari untuk memperbaiki hal-hal yang saya anggap masih kurang.

Duet dengan Lautaro? Sebelum bergabung, saya menyaksikan laga persahabata Inter di Appiano Gentile. Saya mengamati bagaimana ia bermain dan bagaimana pergerakannya dan berpikir andai kami bermain bersama dengan baik, kami bisa membantu tim ini.

Sesaat usai bergabung, kami langsung bisa berteman baik. Saya juga bisa berbicara bahasa Spanyol yang kemudian memudahkan komunikasi kami di lapangan.”

Soal selebrasi membungkuk ke arah penonton…

“Kala tiba di Inter, ada banyak fans yang menunggu dan menyambut saya di bandara Linate yang membuat saya bisa langsung merasakan kasih sayang dan cinta mereka. Karena hal itu selebrasi tersebut sebagai bentuk terima kasih kepada mereka.”

Source: Tiki Taka

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *